Categories
Movie Reviews

SELESAI (Movie Review): Patut Ditonton atau Tidak?

Home » All Articles » Movie Reviews » SELESAI (Movie Review): Patut Ditonton atau Tidak?

Dunia perfilman Indonesia 2 minggu lalu digemparkan dengan film Selesai, yang disutradarai oleh Tompi. ‘Selesai’ menuai banyak sekali mixed reactions di berbagai sosial media, setidaknya dari review tim Retina.

Sejujurnya awalnya, tim Retina tidak terlalu tertarik dengan film mengenai pernikahan, tapi karena banyak dibahas oleh netizens, tim Retina memutuskan untuk mencari tahu apa yang menjadi topik pembahasan netizen di film ini.

Overall Review

Nilai dari overall tim Retina: 5.5/10

Tidak banyak yang bisa kami komentari dari film ini, karena juga durasinya yang cenderung lebih pendek dibandingkan beberapa film lainnya. Menurut tim Retina, premise cerita ‘Selesai’ kurang kuat dan jelas, sehingga di pertengahan film, banyak dari kita merasa lost – ini film mau dibawa kemana ya? Dan establishment background ceritanya terasa tidak jelas membawa banyak pertanyaan, seperti mengapa seseorang tersebut bisa berselingkuh – apa basis dari tingkah laku orang tersebut? Penggunaan soundtrack juga minim sekali, sehingga kadang film terasa kosong. Namun satu hal yang tim Retina cukup sukai adalah depiction kehidupan sehari-hari yang cukup real (tidak semua dicantik-cantikan)

On overall, film ini juga ada sedikit membuat tim Retina flashback akan film Gone Girl, dimana sepertinya penulis ingin membuat plot twist yang tidak terduga, namun disayangkan eksekusi di film ‘Selesai’ masih fall short.

Personal Rating

Nisa 5/10

Secara personal, film ini bukan untukku. Aku jarang dan gak biasa menonton film tentang relationship, apalagi kisah yang intim seperti ini. Selain itu, aku bukan penggemar film dengan plot twist, berbeda dengan kebanyakan orang. Yang paling aku suka dari film ini akting Tika Panggabean yang biasanya galak dan tegas bisa jadi karakter polos dan nyeleneh.

Fany 5/10

Nice attempt on the plot twist, but falls short in execution. Enjoyed the actor’s acting and the realness of the things we meet daily. Could be delivered better next time though, I hope!

Regi 6/10

Basically kurang menarik karena alur ceritanya ga cukup mudah untuk dicerna. Tapi satu hal yang menarik pada film ini adalah ketika Ariel Tatum menciptakan impian dalam pikiranya, dimana sebenarnya hal itu tidak terjadi di dunia nyata. Mungkin dari situlah kita harus mulai belajar untuk lebih aware terhadap mental health? 

Widhy 6/10

Film Selesai harusnya dapat menjadikan pertanda tentang perselingkuhan dalam sebuah hubungan, namun plot dari ceritanya yang maju-mundur sehingga agak sulit dipahami. Selain itu tone warna yang kekuningan menjadikan kesan kelabu yang sedikit menggangu.

Sekarang kita kupas lebih dalam elemen-elemen di dalam film ‘Selesai’:

1. Alur Cerita

cuplikan film selesai Ariel, Gading dan ibu rayakan ulang tahun

Jujur, karena semua Tim Retina belum ada yang menikah, kita semua gak relate dengan dengan kisah polemik pernikahan. Kita agak sulit untuk mencerna alur ceritanya, apalagi penyebab kenapa Gading berselingkuh. Entah karena faktor fisik atau yang lainnya, bahkan menurut kami istrinya juga tidak kalah cantik. Apalagi, ternyata sang Ibu tahu sumber keretakan rumah tangga anaknya, tapi tetap ingin mempertahankannya. Bahkan masih menuntut cucu dari mereka. Tapi ketika bertanya dengan orang yang pernah mengalami kejadian seperti ini, mereka justru mudah relate dengan kisah ini. Mungkin memang harus ada faktor lain yang perlu kita pertimbangkan kalau menilai sebuah cerita.

2. Akting Pemain

Menurut tim Retina, akting pemainnya sangat meyakinkan. Akting Gading berhasil membuat para perempuan kesal dengannya, penampilan Ariel Tatum terkesan misterius dan kuat sehingga plot twistnya berhasil, Marini Soerjosoemarno membuat penonton selalu tegang setiap ada karakter sang ibu mertua ada di scene film, dan paling mengesankan adalah karakter Yani, yang kemarin masih fresh di kepala kita saat Tika Panggabean berperan sebagai single mother yang galak di film Ali dan Ratu-Ratu Queen, kini tampil sebagai asisten rumah tangga yang penurut. 

3. Sinematografi

Bisa dibilang sinematografinya cukup berantakan, karena konon memang ini film budget. Di awal-awal banyak gambar yang tampak seperti golden hour dan berkabut, tapi kadang juga cahaya di rumah tersebut bisa berubah berbeda. Jadi kita agak bingung dengan mood-nya. Seolah-olah pendekatan film ini mirip dengan syuting video klip ataupun film vintage, kurang mencerminkan kemodernan tahun 2020 dan 2021 Jakarta.

4. Insight

Hal yang paling nyantol di kepala ketika menonton film ini adalah “apa orang-orang ini tidak paham dengan konsep kesehatan mental?” karena meskipun di ujung kisah ini adalah sangkut pautnya dengan masalah kejiwaan, tapi tidak ada pemahaman di awal, bahwa semua karakter memiliki penyakit akut. Mulai dari Gading yang sering gaslighting ketika dituduh selingkuh, hingga Ibu yang over-controlling kehidupan anak-anaknya.

Konklusi

Akhir kata, mungkin memang film ini sebenarnya menunjukan masih betapa minimnya pengetahuan orang Indonesia akan kesehatan mental. Tapi mungkin karena faktor budget dan waktu juga, para pekerja film ini tidak bisa maksimal dalam menyelesaikan film ini. Semoga di produksi selanjutnya, film dengan tema begini bisa lebih ter-deliver dengan baik.

Bagi yang ingin nonton film ini, bisa ditonton di platform Bioskop Online ya!

By Retina's writer

Meliput Dunia Perfilman Indonesia via Data Storytelling & Visualisation

Leave a Reply

Your email address will not be published.