Categories
Movie Reviews

(Short Movie Reviews) Lima Film Pendek Quarantine Tales

Home » All Articles » Movie Reviews » (Short Movie Reviews) Lima Film Pendek Quarantine Tales
Telah hadir satu lagi kumpulan film pendek Indonesia di layanan menonton streaming Netflix, Quarantine Tales. Film ini telah tayang di Bioskop Online sejak Desember lalu dengan lima cerita yang tergabung dalam satu film. Namun di Netflix, kelima kisah tersebut di pecah menjadi lima film pendek yang dapat ditonton terpisah.

Pada Bioskop online, film ini dibuka dengan ‘Nougat’, kemudian lanjut berurutan dengan Prankster, Cook Book, Happy Girl Don’t Cry, dan terakhir The Protocol. Namun ketika berpindah ke Netflix, urutannya berubah. Di artikel ini, RetinaReview akan menyusun review film ini sesuai urutan yang ada di Netflix.

The Protocol

Menjadi film pembuka di Netflix, The Protocol mengambil latar pandemi dan dikemas dengan nuansa komedi. Bercerita tentang seorang dua kriminal yang kabur namun salah satunya mendadak meninggal karena penyakit.

Poster Film The Protocol
Poster The Protocol

Film garapan Sidharta Tata ini mendapat reaksi positif dari penonton karena ceritanya yang cukup menyindir situasi saat ini dengan tawa. Kisahnya ringan dan sangat mudah diikuti. Jika kalian punya rencana untuk nonton bareng online, film pendek ini bisa menjadi pilihan karena dapat dipastikan semua orang bisa menikmatinya.

Retina Rating: 7.5/10

Film ini ringan, kocak, dan tidak bisa ditebak. Cocok untuk ditonton bersama orang rumah atau mungkin bareng teman-teman secara online. Kekurangannya, bagi sebagian orang, film ini mungkin terlalu dipaksakan untuk cocok dengan situasi pandemi.

Happy Girls Don’t Cry

Poster Film Happy Girls Don't Cry
Poster Happy Girls Don’t Cry

Di antara semua film yang ada, mungkin film ini bisa dikatakan menjadi film yang paling menonjol. Awalnya kita melihat film ini menjadi drama mini keluarga yang dapat menghanyutkan emosi kita. Berbagai masalah yang diceritakan sangat dekat dengan kehidupan pandemi sekarang. Puncak ceritanya cukup memberikan kejutan, sehingga banyak penonton yang jatuh hati dengan film ini.

Bagi beberapa pecinta film, formula film Happy Girls Don’t Cry terasa mirip dengan film-film satir Eropa. Tapi sutradara Acho Tenri dapat dengan luwes memasukkan elemen-elemen kisah yang sangat Indonesia, sehingga para penonton merasakan nuansa baru dalam film ini.

Retina Rating: 8.5/10

Film ini sangat Retina rekomendasikan untuk para pecinta plot twist. Tipe karakter yang menjadi tokoh pun rasanya jarang terlihat di film atau televisi. Di sisi lain, banyak layer cerita yang hadir dalam film ini, yang kadang menjadi distraksi bagi penontonnya. Film ini cocok ditonton oleh berbagai kalangan karena plot ceritanya yang sangat kuat.

Nougat

Poster Film Nougat
Poster Film Nougat

Lepas dari tema pandemi, film ini mengambil tema komunikasi jarak jauh. Bercerita tentang perkembangan hubungan ketiga saudari selama sepuluh tahun lewat aplikasi video call, mulai dari skype, berkembang ke WhatsApp Call, hingga Zoom. Bila dibandingkan dengan film lainnya, film ini terasa lebih personal dan membuat penonton menjadi lebih dekat dengan tiga karakter yang ada.

Karya ini merupakan kali pertama Dian Sastrowardoyo berperan sebagai sutradara dan penulis cerita. Kisahnya diceritakan dengan intim sehingga penonton dapat merasa emosi familiar yang dari para karakter yang diceritakan ingin menjaga hubungan persaudaraan.

Retina Rating: 8.5/10

Film ini memiliki perkembangan cerita yang sangat rapi, bahkan dari segi visualnya yang dimulai dari teknologi video Skype yang masih pecah-pecah. Ketimbang ketika kita sudah berada di era Whatsapp dan Zoom. Hanya saja untuk beberapa orang, kisah ini bisa jadi membosankan karena sebagian besar adegan fokus pada ketiga pemeran dan diambil dari depan layar komputer. Lebih cocok ditonton sendirian karena banyak adegan refleksi diri.

Cook Book

Poster Film Cook book
Poster Cook Book

Satu lagi tema yang lebih mengangkat kisah isolasi dan bagaimana rasa kesepian bisa membangkitkan ingatan-ingatan yang mungkin sempat terkubur di kepala. Cook Book bercerita tentang seorang koki yang menyendiri di rumah untuk menyusun buku masak miliknya. Tiba-tiba ada seorang anak perempuan misterius yang menghubunginya lewat telepon video.

Dengan Ifa Ifasyah sebagai sutradara, film pendek ini memancing penonton untuk berpikir dan merasa curiga di setiap adegannya. Mulai dari karakter utama yang terlihat nyaman dengan kesendiriannya, perempuan misterius yang hanya muncul lewat telepon video, hingga editornya yang menjadi satu-satunya orang yang bisa ia ajak diskusi. Memang isinya cukup berat bila dibandingkan dengan film lainnya, tapi kisahnya sangat menarik.

Retina Rating: 8/10

Dari berbagai film, sinematografi Cook Book sangat unggul dibanding film lainnya. Gambarnya beragam dan enak dilihat, mendukung alur ceritanya yang sedikit ambigu. Alur ceritanya bagus dan memiliki pesan yang dalam, tapi mungkin akan sulit dimengerti oleh banyak orang, terutama anak-anak usia remaja kebawah.

Prankster

Poster Film Prankster
Poster Prankster

Seperti yang dapat ditebak dari judulnya, film ini menceritakan kisah seorang selebriti online yang mendapatkan pengikut dari berbagai kegiatan prank. Di awal film pun segera diperlihatkan identitas pemeran utama yang sedang streaming dengan mengenakan pakaian mencolok. Seperti di film Nougat, Prankster bercerita dari kamera laptop.

Dalam filmnya, Jason Iskandar dapat memberikan berbagai detail-detail kecil untuk karakternya. Bravo untuk Studio Antelope yang dapat memperlihatkan berbagai detail, mulai dari gaya berpakaian, format video yang berbeda-beda, karakter pemain yang khas, hingga karakter para netizen lewat komentar-komentar yang ditampilkan. Tidak sampai satu menit, penonton film ini dapat segera memahami kisah yang akan disuguhkan.

Retina Rating: 7.5/10

Prankster sangat mewakili trend budaya influenser yang ada saat ini. Ceritanya tidak ribet dan cocok dengan point of view lewat layar komputer. Kualitas gambar yang sangat bagus, memuncul rasa kalau kisah Prankster kurang natural (untuk penonton YouTube yang jarang memakai setting HD). Film ini cocok untuk semua umur, tapi mungkin ceritanya akan sulit masuk untuk penonton yang tidak familiar dengan budaya influenser.

Overall Verdict

Awalnya, sempat merasa akan sulit menikmati film Quarantine Tales di saat sedang PPKM. Takutnya, film ini justru menambah beban stress yang sudah ada. Tapi ternyata, film-film ini bisa menghibur penontonnya karena menyuguhkan berbagai cerita yang segar. Malah dengan kisah yang memiliki latar serupa, kita jadi dapat menerima kalau karantina sudah menjadi dari bagian normal baru di era sekarang. Dengan durasi yang pendek-pendek ini, RetinaReview sangat menyarankan untuk menonton film ini.

Sekian dari kami, semoga kalian bisa tetap sehat dan bisa terhibur dengan film ini!

By Retina's writer

Reviewer Film Indonesia oleh 5 kaum Millenial :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *