Categories
Movie Reviews

A World Without (Movie Review)

Home » All Articles » Movie Reviews » A World Without (Movie Review)

Before we begin, yuk cobain kuis THE LIGHT ini terlebih dahulu. It’s sort of like a sorting hat di film Harry Potter. Coba lihat apakah kalian cocok untuk menjadi bagian dari akademi THE LIGHT hehe 🙂

Link to Quiz here

Bagaimana hasilnya? Apakah diterima?

Seluruh tim Retina dinyatakan tidak pantas untuk masuk lho ke The Light! Mungkin semuanya lebih suka darkness ya (receh).

OVERALL SCORE: 6.5/10

Konsep film ini sangat unik dan baru di film Indonesia. A very nice attempt on bringing Divergent / Hunger Games feel to the movie. Tapi... mungkin karena masi konsep yang novel, kami mempunyai banyak pertanyaan ingin address dengan penulis ceritanya.

SINOPSIS

Sekelompok anak berusia 16 tahun bergabung di dalam bus menuju ke sebuah tempat bernama The Light yang sepertinya bisa menjawab kekhawatiran mereka semua. Terletak di wilayah yang masih hijau dan penuh pepohonan, The Light memperlihatkan suasana damai yang langsung menyambut para calon penghuni.

The Light tidak hanya indah secara visual, tapi juga menjanjikan karir dan kebahagiaan yang jarang bisa didapatkan oleh orang-orang. Begitulah yang dipercaya oleh tiga sekawan Salina, Ulfah, dan Tara. Di tengah keresahan mereka tentang masa depan, The Light menjadi jawaban dari rasa khawatir mereka.

Perlahan, mereka mendapatkan hal-hal yang dijanjikan oleh The Light, antara lain pekerjaan, jodoh, dan tempat tinggal. Namun Salina bernasib buruk, ailh-alih mendapatkan calon suami idaman, dia malah dijodohkan dengan pria berkeluarga. Ternyata bukan hanya Salina yang kebagian apes, tapi juga kedua sahabatnya yang telah menikah.

SINEMATOGRAFI

Mulai dari gambar hingga warna, pakaian hingga lokasi, memiliki detail yang sangat dipikirkan dengan matang. Warna sangat professional (clean) seperti warna yang dipakai di film luar negeri. Secara visual, penonton dimanjakan dengan elemen-elemen yang segar dan baru. Seperti bangunan THE LIGHT yang memakai bangunan di Bandung, props dan alat teknologi yang dipakai cukup canggih dan menawan (gelang LCD).

a world without the light scene beauty department

PEMAIN

Seluruh pemainnya berakting dengan baik, terutama karakter Asmara Abigail yang sukses tampil seperti remaja reckless berusia 17 tahun. Chemistry pasangan Sofia (Ayushita) dan Ali (Chico Jericho) tampak natural seperti potret pasangan suami-istri pada umumnya. Juga ketiga sahabat Salina (Amanda Rawles), Ulfah (Maizura), dan Tara terlihat seperti sahabat lama yang tumbuh berbagi pengalaman bersama. 

Selain para pemain utama, akting pemeran pendukung juga terlihat menjiwai karakter. Seperti karakter Endru yang diperankan oleh Dimas Danang dan Bu Nanik yang diperankan oleh Dira Sugandi. Porsi mereka sangat kecil, tapi karakter mereka sangat melekat kental, bahkan cenderung menjadi karakter yang paling bisa kita pahami posisinya. 

MISSING PUZZLE PIECES (PERTANYAAN RETINA)

1. Dalam video perkenalan The Light, diperlihatkan masalah di Bumi saat di tahun 2030 pasca pandemi, dengan menitikberatkan permasalahan di isu polusi, sampah, dan global warming. Tapi tidak diberikan solusinya di THE LIGHT, malah mereka diminta untuk menikah, berkeluarga, dan bekerja. Sehingga logika antara sebab-akibat langsung tidak bisa diterima.

2. Akhir film selesai seperti itu aja, membuat penonton bertanya-tanya Apa yang menyebabkan mereka bisa kabur ke dunia yang konon tidak lebih baik dari THE LIGHT? Kembali lagi, motivasi mereka masuk THE LIGHT memangnya apa?

3. Apakah maksud film ini menyindir? Kalau iya, menyindir apa? Kelompok yang ingin menikah muda? Kelompok yang mempercayai cult? Atau orang yang memiliki wewenang untuk memanfaatkan kepercayaan orang-orang yang mereka tipu? Kalaupun iya, seharusnya alasan salah satu dari pemerannya harus cukup kuat sehingga kita bisa memahami motivasi mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Karena bahkan di dunia nyata, kita masih bisa merasa relate dengan pelaku kejahatan dan memahami motivasi mereka untuk melanggar aturan.

(VERDICT) REVIEW RETINA

Tiffany: 7/10

Adaptationnya membuatku sedikit kilas balik feel film Divergent (yang pake academy-academy gitu) which is pretty refreshing untuk film Indonesia ya. Tech & gadget yang dishow juga cukup bagus, meski tidak terlalu sophisticated. Overall, the movie for me is pretty good, sangat cocok untuk remaja! Cinematography & acting is great. Cuman mungkin untuk premise cerita untukku bisa lebih di-detailin lagi. Jatuhnya punya banyak pertanyaan, “jadi ini untuk apa dong?  lha kok bisa segampang ini?” dll.

Nisa: 6.6/10

Secara sinematografi dan akting udah bagus, tapi malah untuk genre seperti ini alur ceritanya ketebak. Red Flag-nya sudah ada dimana-mana, jadi kita gak bisa relate dengan satu karakter pun. Logika sebab-akibatnya gak nyambung. Tapi akting masing-masing pemainnya bagus banget. Terutama Danang yang gak keliatan sebagai Danang. Mungkin kalau di bikin mini seri (3-4 episode), ada motivasi masing-masing untuk masuk ke The Light jadi akan lebih baik ya.

Widhy: 6.5/10

Tema yang diangkat cukup fresh di perfilman Indonesia dan menghadirkan isu-isu terbaru seputar social media. Dari sisi sinematografi sangat ringan layaknya film Netflix umumnya dan mudah terbaca arahnya kemana. Untuk ceritanya sendiri seperti terburu-buru langsung ke ending tanpa memperhatikan detail ceritanya.

Regi 6/10

Dari ceritanya cocok banget dengan situasi sekarang ini, dimana film ini memperhatikan adanya kemajuan teknologi. Tapi ada beberapa kejanggalan dalam ceritanya yang menurutku kurang oke untuk ditonton oleh anak sekarang. Hanya takut memunculkan stigma baru bahwa di usia 17 tahun diharuskan menikah. Jujur agak kurang sreg sama ceritanya, terlalu terburu-buru dan kurang mendetail. 

Menurut Retiners, gimana film ini? Yuk komen di bawah ya!

By Retina's writer

Meliput Dunia Perfilman Indonesia via Data Storytelling & Visualisation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *