Categories
Movie Reviews

A Perfect Fit (Movie Review) : Ketika Semesta Mendukung Kita untuk Bertemu dengan Pasangan Terbaik

Home » All Articles » Movie Reviews » A Perfect Fit (Movie Review) : Ketika Semesta Mendukung Kita untuk Bertemu dengan Pasangan Terbaik

Masih dalam situasi pandemic, pasti kita rindu untuk vacation ya? So, kali ini Retina mau review nih salah satu film yang membawa vibes liburan, judulnya A Perfect Fit yang baru-baru ini tayang di Netflix! 

Film ini cocok sekali untuk para Retiners yang suka dengan dunia fashion design, keindahan dan kultur Pulau Bali, dan more into chicklit movies. Film ini casual, feel good dan worth watching dengan para pasangan Retiners ataupun just for a casual watch at night! Hanya berdurasi 1 jam dan 52 menit!

Overall Rating

Rating: 4 out of 5.

Score : 7.8/10 (dari personel Retina)

A Perfect Fit fits nicely for a chill casual night to watch. Visual di film ini bagus sekali baik dalam segi sinematografi, apalagi pemain-pemain filmnya ya! Eyecandy

Dari sisi cerita, tim Retina juga suka karena mempotraitkan sisi realistis dalam mencari pasangan hidup – we don’t always get to choose what we want, but when we have the option, are we daring enough to take the chance? 

Karena tim Retina majority wanita yang lumayan romantis, jadi kita lumayan menyukai alur cerita dan chemistry dari kedua pemain utama. Akting dan tatapan mata pemain baik sekali sehingga kita bisa merasakan dilema yang sedang mereka hadapi dan membuat kami feel the emotional rollercoaster.

Rekomendasi Tim Retina 

Nisa : Filmnya super fresh! Aku suka banget fashion and style yang ada di filmnya. Terus kita jadi lebih berasa dekat dengan orang-orang lokal Bali, karena biasanya film dengan latar belakang Bali cuma jadi film “liburan”. Sayangnya, aku ga cocok sama film romantis, rasanya terlalu magical aja kejadian di film ini. Hahaha. Overall 7.5 dariku yaa. Bagus banget karena fresh, tapi gak cocok untuk yg ga doyan nonton romantis.
Regina : Sedikit mengobati rasa rindu vacation. Suasana Balinya nyegerin banget! Dan tentunya si sutradara berhasil memilih pemeran yang benar-benar cocok dengan situasi sekitarnya. Suka juga dari segi fashionnya, unik berbau khas Bali juga tentunya. Applause untuk A Perfect Fit! Hati-hati guys, emotional banget nih film! Overall 8.5 from me!
Tiffany : Chicklit lover here! I love the cinematography (Bali!!) dan juga visual dan akting pemainnya (eyecandy!). Story wise, sebenarnya lumayan predictable but making it easy to watch dan menghibur karena lagi tidak ingin yang berat-berat! I also love the fashion here yang fuse elemen baju tradisional Bali x modern casual feel. Overall, it is 8/10 for me :)

Menurut teman-teman yang sudah nonton bagaimana? Coba drop komen kalian bagaimana suasana hati kalian ketika nonton film ini ya!

Sinopsis Film: A Perfect Fit (Spoiler Alert!)

Salah satu topik utama di film ini terletak pada makna pernikahan. Makna pernikahan memang adalah suatu topik yang serius, maka tak heran banyak orang sangat berhati-hati dalam memilih pasangan hidupnya. Begitu pula yang dilakukan Saski (Nadya Arina) dan Rio (Refal Hady). Ditakdirkan untuk bertemu tanpa kesengajaan (dengan bantuan sedikit bumbu magic), namun kisah cinta mereka tidaklah segampang fairytale di buku dongeng, malah bisa dikatakan kisah mereka tergolong complicated. Mereka berdua karena satu dan lain hal sama-sama tidak bisa mencintai pasangan mereka seutuhnya. Dan yang lebih sulit lagi, they fell in love unexpectedly with each other… 

Memang ya Retiners, kalau bahas tentang percintaan pasti ga ada abisnya!

The Details: Apakah Kamu Percaya Cinta, Perjodohan, atau bahkan Ramalan?

Elemen-elemen cerita seperti “perjodohan”, “ramalan” dan “true love” adalah bumbu utama di dalam film A Perfect Fit. 

Jatuh Cinta Tanpa Sengaja

Source : Trailer ” A Perfect Fit” from Youtube

Saski, seorang gadis Bali yang berprofesi sebagai fashion designer telah memiliki pasangan seorang anak pengusaha kaya pemilik hotel di Bali bernama Deni (Giorgino Abraham). Tapi siapa sih yang tahan jika memiliki pasangan yang temperamental? Yes! itu juga dirasakan oleh Saski, tapi apa daya jika orang tua berkata Deni adalah jodoh terbaik untuknya. Rasa sakit selalu dialami oleh Saski, ketika dibentak, perlakuan kasar Deni, hingga melihat tunangannya bermain dengan wanita lain. Perasaan itu dipendam terus menerus, hanya ia dan dirinya yang mengerti situasi dan kondisi yg selalu dirasakan. 

Di satu waktu Saski bertemu dengan Rio, seorang pengrajin sepatu yang kalem dan gentle. Semua ini berawal karena ramalan dari seorang ibu-ibu paruh baya yang memberikan sehelai daun lontar dan konon katanya, daun lontar tersebut akan mengarahkan Saski pada satu hal yang ia perlukan. Termasuk bertemu dengan Rio, mungkin? Ya, siapa yang tahu juga~

Waktu bertemu dengan Rio, Saski merasakan ada suatu rasa yang mengganjal. Eh ya mana ga mengganjal kalau kalian butuh sepatu tapi dipakein sama yang jual ya kan? Eits, jangan baper ya guys, kan udah di spoiler kalau film ini sungguh emotional.

Dari pertemuan itulah Saski sering bertemu dengan Rio, bahkan hingga mulai muncul perasaan butterflies. Wanita mana sih yang ga nyaman ketika ada seorang lelaki yang selalu ada, bahkan ketika suasana hati lagi di kondisi kurang baik? Pasti lah ya muncul rasa nyaman, bahkan bertanya-tanya kenapa hal itu bisa terjadi. Pertemuan mereka berawal karena tidak disengaja, namun membawa banyak romansa dan juga permasalahan dalam hubungan antara keduanya, baik Saski dan juga Rio.

“Love comes unexpectedly, who can deny that? But when it comes, are you willing to embrace it or run from it?”

Perjodohan Tanpa Cinta = Apakah Kita bisa tetap Memaksa?

Source : Trailer ” A Perfect Fit” from Youtube

Kata orang, jodoh sebenarnya tidak akan lari kemana. Sama halnya di cerita A Perfect Fit ini. 

Di awal cerita, Saski sudah dijodohkan dengan Deni karena alasan ibunya yang sakit dan seluruh pengobatan ibunya dibiayai oleh keluarga Deni. Tentu karena Saski tidak ingin menyakiti perasaan ibunya, pasti dong Saski nurut dengan apa kata ibunya. Saski juga menimbang bahwa dia tidak bisa mendapatkan segala sesuatu yang ia inginkan di dunia ini, dan demi kebutuhan keluarga Saski, she is willing to compromise her true love. 

Namun layaknya perjodohan tanpa cinta, ketika masalah menerpa, banyak masalah bermunculan ketika Saski mulai jatuh cinta sama Rio. Meski Saski sering sekali dibentak dan difitnah oleh tunangannya, Saski tetap bertahan berjuang untuk hubungannya. Hingga satu waktu ketika semuanya hancur berlebur ketika Deni ketahuan selingkuh, Saski kembali dipertemukan kembali dengan peramal yang waktu pertama kali dia diberikan sehelai daun lontar. Bedanya, kali ini Saski diberi sehelai bulu angsa. Entah mengapa si ibu peramal ini datang di saat Saski menghadapi kegalauan akan percintaannya. Dan seperti layaknya chicklit movie, bulu angsa ini mempertemukan Saski dengan her true destined love.

“Mengorbankan perasaan diri sendiri itu tidak baik, berujung pada menyiksa diri sendiri dan menjauhkan kita dari hal yang sebenarnya dekat.”

Ramalan

Source : Trailer ” A Perfect Fit” from Youtube

Seperti yang sudah disampaikan di atas, A Perfect Fit banyak menyuguhkan elemen “ramalan” di dalam alur cerita. Ibu paruh baya yang memberikan daun lontar dan sehelai bulu angsa adalah bagaikan Fairy Godmother yang membantu Cinderella (Saski) untuk bertemu her true love, Rio.

_________

Nah, hayo.. siapa yang sampai sekarang ini masih percaya dengan ramalan dan true destined love? WE DO! And If you do, we bet you will enjoy A PERFECT FIT!

By Retina's writer

Meliput Dunia Perfilman Indonesia via Data Storytelling & Visualisation

Leave a Reply

Your email address will not be published.