Categories
Movie Reviews

​​Perempuan Tanah Jahanam (Movie Review)

Home » All Articles » Movie Reviews » ​​Perempuan Tanah Jahanam (Movie Review)

Para penggemar Joko Anwar, pasti tahu kalau film ini adalah proyek yang perlu ia tahan-tahan selama 10 tahun karena begitu idenya muncul di kepalanya, ia merasa dirinya belum mampu mengeksekusinya. Maka tidak heran begitu film ini hadir di bioskop pada Oktober 2019 lalu, sambutannya cukup meriah. Kali ini, Perempuan Tanah Jahanam (Impetigore) telah tayang di Netflix, tanggal 2 Oktober 2021. Jadi, teman-teman yang belum sempat menonton di bioskop, bisa langsung menikmatinya di rumah.

Alur Cerita yang membuat kita Ternganga (NO SPOILER!)

Cerita dibuka dengan kisah yang langsung mengikat secara emosional kepada si tokoh utama, Tara Basro. Prolog dari film ini membawa kita ke berbagai pertanyaan kenapa tokoh Maya bisa menjadi korban kejadian di awal.

Motivasi Maya dan Dini pergi ke kampung halaman Maya pun sangat kuat, karena menipisnya tabungan mereka yang sudah hidup dalam kondisi pas-pasan. Sehingga keduanya terpaksa masuk ke dalam skenario horor yang sudah dipersiapkan. Meskipun durasinya terasa agak aneh di akhir, seakan agak diburu-buru dan malam tidak kunjung berubah menjadi subuh, ceritanya terasa berbeda dari horror kebanyakan.

Alih-alih menakut-nakuti dengan hantu, faktor manusia menjadi faktor teror dan sumber permasalahan yang ada di tanah jahanam ini. Mulai dari sumber kutukan, hingga efek yang muncul karena kutukan tersebut. Meskipun ada beberapa hantu di film ini, sosok gaib tersebut tidak berfungsi untuk menakut-nakuti penonton, justru mereka menjadi sosok petunjuk.

Secara keseluruhan, alur cerita film Perempuan Tahan Jahanam ini sangatlah menarik dan well scripted menurut kita, tidak banyak pertanyaan atau kejanggalan yang muncul ketika menonton film ini (meski memang ada beberapa ya). Isu yang dibahas juga sangat relatable mengaitkan kultur penduduk desa yang kemungkinan lebih minum akses pendidikan dan cara mereka mengatasi polemik yang terjadi di desa tersebut. Ada sedikit power struggle primitif yang kita bisa simak disini, dimana semua penduduk ikutin aja kata kepala desa di kala mereka kehabisan jawaban.

CAST yang STELLAR

Bisa dibilang hampir seluruh karakter yang ada bisa berakting dengan baik dan maksimal. Kita merasa tidak ada dialog canggung atau cringe di film ini. Akting Tara Basro menjadi Maya menjadi karakter yang paling melekat dibandingkan karakter dia dengan karakter-karakter yang pernah ia mainkan sebelumnya. Tara Basro berhasil memunculkan berbagai emosi yang harus ia lewati di film ini. Mulai dari emosi takut, bingung, hingga memelas.

Karakter Dini juga berhasil memperlihatkan potensi akting yang dimiliki oleh Marissa Anita. Jika di film Selamat Pagi, Malam dan Ali & Ratu-Ratu Queen Marissa Anita berperan sebagai perempuan kelas atas, sosok Marissa disini hadir sebagai perempuan kelas menengah yang nekat.

Para karakter pendukung lainnya, mulai dari Asmara Abigail, Ario Bayu, hingga penduduk lokal kampung sangat terasa natural. Bahkan, karakter penduduk kampung tersebut ada yang beberapa merupakan warga lokal, loh! Jadi bisa dibilang beberapa dari mereka adalah pemain amatir yang bisa menyaingi para aktor profesional.

Terakhir, tidak dipungkiri bahwa akting dari Christine Hakim sangat menakjubkan. Bukan hanya ini pertama kalinya beliau menjadi pemeran antagonis, tapi juga pertama kalinya beliau tampil di film horor. Sekilas, raut wajah beliau pun tampak berubah ketika tampil di film ini, tidak seperti sosok Ibu Christine Hakim yang familiar.

Sinematografi

Source: iradiofm (https://iradiofm.com/perempuan-tanah-jahanam-tegang-dan-mencekam/)

Suasana yang hadir di film ini sangat amatlah mencekam dan pengambilan gambar sangat gelap (very foggy & brownish). Tapi settingan tempatnya, WAW, terlihat sangat realistis merefleksikan kondisi rumah penduduk seperti biasanya. Meski di siang hari, settingan film ini terlihat tetap mencekam.

Secara adegan, ada beberapa adegan yang pengambilannya kami suka karena cukup unik dan surprising, seperti misalnya: adegan di toilet perempuan, adegan jemur “sesuatu” oleh Christine Hakim, pertunjukkan wayang, dan lainnya. 

Ada pula adegan yang hanya berisi gambar di akhir-akhir cerita yang bersifat retrospektif, tanpa ada penjelasan secara naratif, namun message yang didapatkan sangat jelas dan pengambilan gambar secara flashback juga seru.

Akhir kata 

Film ini bisa banget dibahas dari berbagai segi dan topik, mulai dari isu sosial tentang kepemilikan anak, dimana anak diluar nikah menjadi aib yang harus disembunyikan, adanya unsur black magic, dukun dsb, portrayal pertunjukan wayang, hingga dinamika hubungan penduduk desa, seperti power struggle, one-sided blinded trust dan kecenderungan penduduk desa yang tidak mempertanyakan dan mencari tahu lebih jauh mengenai kutukan yang terjadi, misalnya mengapa penduduk tidak mencari dukun lain atau mengapa semua sangat bergantung pada Saptadi?

RETINA REVIEW OPINION

Nisa 9/10:

Bagus banget! Apalagi awalnya yang bikin saya merasa penasaran dengan lanjutan kisahnya. Kayanya gak sampe 10 menit, tapi bisa banget bikin kita jadi iba dengan karakter Maya. Selanjutnya, saya larut di ceritanya sih. Di film ini saya merasa tek-tokan dialognya enak, ngalir aja gitu kaya beneran kenal dengan pemerannya.

Tiffany 9/10:

Not a fan of thriller movie, tapi film ini sangat memukau saya dengan alur ceritanya yang sangat solid. Baru 10 menit awal saja sudah jerit-jerit haha. WAW. Akting semua pemain top top top! Settingan tempat sangat real dan membumi. Saya jadi ingin mengecek lebih lanjut film-film karya Joko Anwar karena film ini. Memang setuju, orang lebih menyeramkan dari hantu (cry). Bangga sekali film horor Indonesia bisa seperti ini!

Widhy 9/10:

Suka banget sama karyanya Joko Anwar, dari awal cerita sudah menyuguhkan ketegangan. Audio dan sinematografinya sukses membuat jumpscare yang bener-bener bikin parno. Alur ceritanya sangat fresh untuk film horor di Indonesia. Para aktor/aktrisnya sukses mendalami karakternya sehingga penonton terbawa emosi.

By Retina's writer

Meliput Dunia Perfilman Indonesia via Data Storytelling & Visualisation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *